Warga Tano Batak Desak Menteri KLHK Siti Nurbaya Tutup PT TPL

Nusantaratv.com - 26/11/2021 19:12

Warga tano Batak menggelar aksi unjuk rasa damai di depan Kementerian KLHK menuntut penutupan PT TPL/ist
Warga tano Batak menggelar aksi unjuk rasa damai di depan Kementerian KLHK menuntut penutupan PT TPL/ist

Penulis: Ramses Manurung

Jakarta, Nusantaratv.com-Menteri KLHK Siti Nurbaya didesak untuk menutup PT. Toba Pulp Lestari (TPL). 

Desakan tersebut disampaikan masyarakat adat Tano Batak, Sumatera Utara yang tergabung dalam Aliansi Gerakan Rakyat (Gerak) dalam aksi unjuk rasa damai di depan gedung Kementerian Lingkungah Hidup dan Kehutanan (KLHK), Jakarta Pusat, Jumat (26/11). Dalam aksinya 40 orang perwakilan warga tano Batak menggelar ritual adat, mereka memakai pakaian dan atribut adat.  

Ketua Adat Sihaporas Tano Batak dari Kecamatan Simalungun, Mangitua Ambarita menerangkan ritual yang mereka lakukan adalah agar Menteri KLHK Siti Nurbaya menutup PT. Toba Pulp Lestari (TPL). 

Mereka menilai perusahaan itu telah merusak lingkungan dan merugikan masyarakat adat.

Mangitua menjelaskan, ritual itu dilaksanakan setahun sekali oleh. Tujuannya untuk mengusir bahaya dan meminta perlindungan dari Tuhan pencipta alam semesta.

"Jadi kami mempertunjukkan ritual adat kami untuk menunjukkan bahwa kami punya ritual. Tujuan ritual ini supaya kita dilindungi Tuhan Yang Maha Kuasa, jauh dari marabahaya, termasuk dari PT TPL," ujar Mangitua, Jumat (26/11).

"Supaya tanah kami dilepaskan oleh negara melalui ketukan hati nurani daripada tuhan. Supaya Tuhan mengetuk hati nurani pemimpin negara ini," imbuhnya.

Menariknya, dalam aksinya warga tano Batak juga membakar kemenyan. Asapnya mengepul di sekitar mereka. 

Sementara itu, Mangitua sebagai ketua adat memimpin ritual dan merapal doa. Seraya memegang mangkuk berisi air, Mangitua terlihat khusyuk merapal doa diiringi musik adat. Setelah musik berhenti, air itu pun diminum secara bergantian oleh warga adat.

Baca juga: Keren! Akan Ada Atraksi Kereta Gantung di Danau Toba

"Kami datang ke sini minta ke bu Siti Nurbaya untuk tutup PT TPL ini. Kami datang ke sini bukan untuk rusuh. Ke mana keadilan ini. Karena kami tidak bisa masuk ke kantor ibu, maka ibu yang ke sini," kata Mangitua, mengutip CNNIndonesiacom.

Diketahui Mangitua dan rekan-rekannya berangkat ke Jakarta menggunakan kapal laut. Setelah berlayar selama tiga hari, akhirnya mereka tiba di Jakarta pada Rabu (17/11/2021). 

Selama berada di Jakarta mereka sudah berkali-kali melakukan aksi untuk mendesak pemerintah agar menutup PT TPL. Sebelumnya mereka melakukan aksi di depan kantor Kemenko Marves dan Istana Negara.

Beberapa waktu lalu PT Toba Pulp Lestari (Tbk) atau TPL menanggapi desakan warga setempat agar perusahaan ditutup karena dinilai mencemari lingkungan.

"Perseroan telah memiliki mekanisme penanganan keluhan () di mana setiap keluhan yang muncul dapat disampaikan melalui nomor hotline ataupun surat dan perseroan memiliki komitmen untuk segera menindaklanjuti setiap keluhan yang disampaikan tersebut," kata Corporate Secretary TPL Anwar Lawdenlewat surat keterbukaan informasi BEI, Selasa (3/8).

Anwar menyatakan perusahaan telah melakukan beberapa upaya dalam menyelesaikan konflik agraria dengan masyarakat di areal konsesi. Pertama, perusahaan mendorong dialog secara terbuka untuk mencari solusi bersama.

Kedua, perseroan mendorong kerja sama pola kemitraan kehutanan sesuai dengan Peraturan Menteri LHK Nomor 9 tahun 2021 tentang Pengelolaan Perhutanan Sosial dalam bentuk naskah kerja sama kemitraan dengan masyarakat.

Kemudian, bersama dengan instansi yang berwenang melakukan sosialisasi kepada pihak klaim agar melakukan klaim melalui prosedur hukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

"Dari 10 klaim lahan yang telah terdaftar, Perseroan telah berhasil menyelesaikan 9 dari klaim tersebut dengan menerapkan kerja sama kemitraan kehutanan bersama dengan masyarakat," pungkas Anwar.
 

0

Komentar belum ada.
Otentifikasi

Silahkan login untuk memberi komentar.

Log in