Rumah Polwan di Medan Diserang Puluhan Preman Bersenjatakan Samurai dan Celurit

Nusantaratv.com - 02/11/2021 14:13

Ilustrasi penyerangan bersenjata/ist
Ilustrasi penyerangan bersenjata/ist

Penulis: Ramses Manurung

Medan, Nusantaratv.com-Aksi premanisme kembali terjadi di Medan, Sumatera Utara. Rumah seorang polisi wanita (polwan) bernama Aiptu Surya Ningsih di Kompleks Kalpatra Indah, Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan diserang puluhan preman yang membawa senjata samurai dan celurit. 

Penyerangan brutal yang terjadi pada Jumat (22/10/2021) itu terekam dan beredar di media sosial. Para pelaku juga melempari rumah Aiptu Surya Ningsih dengan batu yang mengakibatkan kerusakan.

Suami dari Aiptu Surya Ningsih, Edi Susanto dan adiknya yang juga seorang polisi Aipda Eko Suqiawan menjadi korban akibat penyerangan. Aipda Eko Suqiawan terluka parah usai dibacok para pelaku. 

Edi Susanto menuturkan saat para pelaku datang menyerang, ia dan adik iparnya Aipda Eko Suqiawan sedang tidak berada di rumah. Kemudian, ia mendapat kabar dari istrinya Aiptu Surya Ningsih bahwa rumahnya telah dikepung dan diserang puluhan preman. Edi dan adik iparnya langsung pulang saat itu juga.

"Begitu mau masuk ke kompleks, saya lihat sudah ramai. Jadi saya menepi di depan kompleks," tutur Edi, mengutip cnnindonesiacom, Selasa (2/11/2021). 

Usai melakukan perusakan rumah, puluhan orang yang mengendarai mobil keluar dari kompleks tersebut. Namun, salah satu mobil terduga pelaku berhenti lantaran melihat Edi.

"Ada yang tanda dengan mobil saya dan menunjuk ke arah aku. Saat itu mereka langsung turun dan menyerangku. Sebelum mereka menyerang, saya mendengar suara letusan senjata api," ungkap Edi.

"Mereka langsung menyerang saya dan mobil hancur. Mereka pakai senjata samurai, stik golf dan macam-macam yang dibawa. Masuk juga tombak ke dalam mobil," imbuhnya.

Menghindar dari para penyerang Edi pun langsung masuk ke dalam kompleks rumahnya. Namun, nahas adik iparnya Aipda Eko Suqiawan dikejar para terduga pelaku yang membawa senjata tajam.

Baca juga: Polisi Diserang Warga Saat Tangkap Bandar Narkoba di Sumut

"Adik saya dikejar pakai kelewang (celurit). Saya tidak mungkin menyelamatkannya karena ramai sekali ada sekitar 70 orang lebih," ucapnya.

Menurut Edi, adik iparnya itu mengalami luka bacok. Puluhan orang pelaku itu pun langsung melarikan diri usai menganiaya Aipda Eko.

Motif Penyerangan

Belakangan diketahui aksi penyerangan yang dilakukan puluhan preman tersebut dilatarbelakangi urusan sewa-menyewa truk. 

Seseorang berinisial DK mendatangi Edi Susanto dengan maksud ingin menyewa sebanyak tujuh unit truk yang akan dibawa ke Langkat. Edi Susanto dan DK sudah saling mengenal karena sudah beberapa kali terlibat urusan sewa-menyewa truk. 

Singkat cerita urusan sewa-menyewa tujuh unit truk disepakati dengan harga sewa per hari Rp900 ribu untuk satu unit truk. DK setuju dan menyewa tujuh unit selama enam hari. 

DK mengaku kepada Edi bahwa truk tersebut, ia pakai untuk bekerja bersama dengan salah satu ketua Organisasi Masyarakat (Ormas) di Langkat. DK pun membayar uang sewa 7 truk selama 6 hari sebesar Rp37,8 juta. 

Kemudian, setelah berjalan dua hari. Tiba-tiba DK menghubungi Edi mengatakan dia tidak sanggup dan meminta agar penyewaan agar dibatalkan.


"Di pulangkan semua karena nggak sanggup bayar rental, hari rabu pulang semua. Jadi ku telpon DK ini, hitungan dulu kita, tapi dia nggak datang," sebutnya.

Lalu, hari berikutnya datanglah anggota Ormas yang datang ke kantornya dan memaki-maki Edi. Mereka menuntut selisih pengembalian uang sewa. Ujungnya terjadilah perkelahian antara anggota ormas itu dengan karyawan Edi. Yang berlanjut dengan penyerangan rumah Edi oleh puluhan preman. 


 

0

Komentar belum ada.
Otentifikasi

Silahkan login untuk memberi komentar.

Log in