Kasus Dugaan Penipuan Cek Kosong, Mantan Gubernur Bengkulu Dijadikan Tersangka

Nusantaratv.com - 21/12/2021 21:36

Ilustrasi cek kosong/ist
Ilustrasi cek kosong/ist

Penulis: Ramses Manurung

Jakarta, Nusantaratv.com-Mantan Gubernur Bengkulu Agusrin M Najamudin dan mantan anggota DPR RI Raden Saleh Abdul Malik ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Metro Jaya. Keduanya ditetapkan tersangka atas dugaan kasus penipuan cek kosong dengan pelapor PT Tirto Alam Cindo (TAC).

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes E Zulpan mengungkapkan keduanya telah ditetapkan sebagai tersangka pada September 2021. Berkas perkara kasus itu pun disebut telah diserahkan ke kejaksaan.

"Sudah tersangka, berkasnya juga sudah diserahkan ke kejaksaan," kata Zulpan, Selasa (21/12/2021).

Zulpan belum menjelaskan secara rinci terkait penetapan tersangka dua pelaku itu. Dia hanya mengatakan kasus itu kini telah dilimpahkan ke pihak kejaksaan.

"Sudah tersangka. Berkasnya sudah dilimpahkan ke kejaksaan," katanya.

Terpisah, pengacara PT TAC, Andreas, menuturkan awal mula pelaporan. Saat itu pelaku Agusrin M Najamudin hendak menawarkan kerjasama bisnis dengan pihak pelapor pada tahun 2019.

"AG (Agusrin M Najamudin) itu mengaku punya HPH (hak pengelolaan hutan) di Bengkulu. Nah rencananya dia mau membeli beberapa aset berupa pabrik dan alat berat dari PT TAC," jelas Andreas.

Baca juga: Merugi Miliaran Rupiah, Korban Dugaan Investasi Bodong Alkes Lapor Polisi

Dalam rencana kerjasama itu, Agusrin sepakat membayar sejumlah uang kepada pihak pelapor hingga mencapai Rp 33 miliar. Pembayaran uang itu dijalankan melalui bentuk saham.

"Akhirnya disepakati perjanjian tersebut sebesar Rp 33 miliar, di mana Rp 33 miliar itu dipecah jadi dua. Sebenarnya Rp 32,5 miliar dan Rp 525 juta itu berupa saham. Artinya dia membentuk sebuah PT CKI. Dengan komposisi dari pihak TAC 52,5% dan PT API sebesar 47,5%. Transaksi itu terjadi," terang Andreas, mengutip detikcom.

"Dari saudara AG masukan nama RS (tersangka Raden Saleh) menjadi direktur utama dengan tujuan dia membeli Rp 32 miliar aset-aset tersebut," tambahnya.

Dari transaksi yang telah disepakati, sambung Andreas, pelaku baru membayar Rp 2,5 miliar. Agusrin dan Raden Saleh lalu berjanji akan membayar sisanya melalui cek.

"Karena pertama kali di DP segitu sisanya baru dibayar melalui cek. Dan cek itu dibuka Rp 10,5 miliar dan Rp 20 miliar. Kemudian sudah jatuh tempo bulan September 2021 tapi tidak dibayar. Terus ditagih dan mereka bayar kembali Rp 4,7 miliar. Jatuhnya tetap dibayar Rp 7,5 miliar dari Rp 33 miliar," terang Andreas.

Pada akhir 2019 pihak pelapor mencoba melakukan mediasi kepada terlapor namun tidak digubris. Atas dasar itu, pihak pelapor membuat laporan di Polda Metro Jaya pada Maret 2020. Laporan itu teregister dengan nomor LP:1812/III/Yan 2.5/2020/SPKTPMJ tertanggal 17 Maret 2020.

Penyidik Polda Metro Jaya akhirnya menetapkan dua terlapor tersebut sebagai tersangka pada 30 September 2021. Kedua tersangka itu dijerat dengan Pasal 378 dan 372 KUHP dengan ancaman di atas lima tahun penjara.

0

Komentar belum ada.
Otentifikasi

Silahkan login untuk memberi komentar.

Log in