Ini Sosok Di Balik Bugarnya Stamina Pemain Timnas Indonesia

Nusantaratv.com - 27/12/2021 10:20

Lee Jae-hong (kiri) bersama Shin Tae-yong. (PSSI)
Lee Jae-hong (kiri) bersama Shin Tae-yong. (PSSI)

Penulis: Mochammad Rizki

Nusantaratv.com - Masyarakat Indonesia kini semakin bangga dengan Timnas Indonesia. Terutama setelah anak asuhan pelatih Shin Tae-yong itu, berhasil lolos ke final Piala AFF 2020 dengan penuh drama dan perjuangan melawan Timnas Singapura. 

Sejumlah pemain mendapatkan pujian dalam penampilan di pertandingan itu, salah satunya kiper Timnas, Nadeo Argawinata, yang mampu menggagalkan tendangan penalti lawan di menit-menit berakhirnya pertandingan. Selain tentunya pelatih Shin Tae-yong, yang menjadi otak dari segala aksi, daya dan upaya pemain Timnas di ajang AFF Cup. 

Meski begitu, nama lainnya juga dianggap berperan besar bagi perkembangan tim nasional sepakbola Indonesia ini. Terutama soal bagaimana bugarnya pemain Indonesia selama 90 menit pertandingan, bahkan hingga babak tambahan 2x15 menit, saat melawan Timnas Singapura. 

Ialah Lee Jae-hong, sosok yang dianggap berperan signifikan dalam meningkatkan stamina pemain Timnas. Hal ini diungkapkan oleh seorang penulis bernama Yusran Darmawan. 

"Ketika Shin Tae-yong ditunjuk menjadi pelatih Timnas Indonesia, saya tak terlalu peduli. Saya pikir dia tak berbeda dengan pelatih lainnya. Namun seorang kawan yang bekerja di Google meyakinkan saya kalau dia berbeda.Kawan itu menunjukkan beberapa wawancara dengan Shin Tae-yong. Rupanya, Shin datang bersama asisten pelatih dari Korea (Selatan)," ujar Yusran dalam tulisannya, yang beredar luas, dikutip Senin (27/12/2021). 

Yusran sendiri mengaku tertarik dengan kehadiran asisten pelatih Lee Jae-hong, sebab pria itu telah mendampingi Shin Tae-yong semasa Piala Dunia 2018 di Rusia. 

Menurut Yusran, Lee Jae-hong mengerti berbagai kelemahan pemain Timnas Indonesia. Kebanyakan tentang fisik yang tidak prima. 

"Lee menjelaskan kelemahan fisik timnas Indonesia. Dia mengamati banyak pertandingan. Timnas hanya sanggup bermain selama satu babak. Di babak kedua, stamina mulai turun. Mental juang sudah hilang. Selain itu, timnas selalu kalah duel. Sekali disenggol, langsung tumbang," kata Yusran. 

"Menurutnya, kecepatan pemain Indonesia dan Korea hampir sama. Yang membedakan adalah kekuatan (power), body balance, & endurance (daya tahan). Indonesia lemah di banyak sisi," imbuhnya. 

Dia, kata Yusran juga menyoroti mental pemain Timnas yang terlalu baik dan pasrah. 

"Dalam sepakbola, kebaikan itu tidak berguna. 'Anda harus melihat setiap pertandingan seperti perang. Di situ, Anda harus punya semangat menang dan mengalahkan. Harus siap bertarung. Kalau perlu membunuh'," tutur Yusran. 

Lee Jae-hong, lanjut Yusran, juga melihat persoalan secara holistik. Menurutnya, fisik dipengaruhi oleh tiga hal yakni gaya hidup pemain, budaya, serta pola hidup. Dia menyoroti pemain yang suka makan gorengan dan nasi. Menurut dia, budaya makan mempengaruhi fisik pemain. Untuk kuat dan berotot butuh makan protein yang banyak.

Lee Jae-hong pun memberikan berbagai solusi atas persoalan ini. Hingga akhirnya seluruh solusi tersebut terbukti.

Meski pada akhirnya, Lee Jae-hong kini tak lagi bersama Timnas.  

"Di level klub, pemain tidak mengonsumsi makanan bergizi. Tanpa banyak makan protein dan makanan bergizi, maka kebutuhan energi tidak akan cukup. Otot tidak bisa terbentuk. Padahal, sepakbola adalah olahraga fisik. Pemain harus siap berduel, siap main keras dengan kaki," kata Yusran. 

Berikut tulisan selengkapnya Yusran terkait peran Lee Jae-hong dalam Timnas Indonesia:

Shin Tae Yong

Ketika Shin Tae Yong ditunjuk menjadi pelatih timnas Indonesia, saya tak terlalu peduli. Saya pikir dia tak berbeda dengan pelatih lainnya. Namun seorang kawan yang bekerja di Google meyakinkan saya kalau dia berbeda.

Kawan itu menunjukkan beberapa wawancara dengan Shin Tae Yong. Rupanya, Shin datang bersama asisten pelatih dari Korea.

Saya tertarik dengan Lee Jae Hong, pelatih fisik yang dibawa Shin Tae Young. Dia ikut mendampingi Shin sebagai pelatih fisik Timnas Korsel di Piala Dunia Rusia, tahun 2018.

Lee menjelaskan kelemahan fisik timnas Indonesia. Dia mengamati banyak pertandingan. Timnas hanya sanggup bermain selama satu babak. Di babak kedua, stamina mulai turun. Mental juang sudah hilang. Selain itu, timnas selalu kalah duel. Sekali disenggol, langsung tumbang.

Menurutnya, kecepatan pemain Indonesia dan Korea hampir sama. Yang membedakan adalah kekuatan (power), body balance, & endurance (daya tahan). Indonesia lemah di banyak sisi.

Dia juga melihat mental. Menurutnya, pemain Indonesia terlalu baik dan pasrah. Dalam sepakbola, kebaikan itu tidak berguna. “Anda harus melihat setiap pertandingan seperti perang. Di situ, Anda harus punya semangat menang dan mengalahkan. Harus siap bertarung. Kalau perlu membunuh,” katanya.

​​​​​Lee melihat secara holistic. Menurutnya, fisik dipengaruhi oleh tiga hal yakni gaya hidup pemain, budaya, serta pola hidup. Dia menyoroti pemain yang suka makan gorengan dan nasi. Menurutnya, budaya makan mempengaruhi fisik pemain. Untuk kuat dan berotot butuh makan protein yang banyak.

Di level klub, pemain tidak mengonsumsi makanan bergizi. Tanpa banyak makan protein dan makanan bergizi, maka kebutuhan energi tidak akan cukup. Otot tidak bisa terbentuk. Padahal, sepakbola adalah olahraga fisik. Pemain harus siap berduel, siap main keras dengan kaki.

Lee tidak memahami kalau pemain di Indonesia kebanyakan berasal dari masyarakat dengan kategori ekonomi menengah ke bawah. Mereka bermain bola di tengah desakan ekonomi. Bola adalah malaikat yang memberi harapan bagi keluarga.

Setelah identifikasi, pelatih Shin & Lee membuat daftar latihan. Porsi utama latihan adalah fisik. Rapor semua pemain dipantau. Mereka ditargetkan bisa bermain keras dan tahan banting saat di lapangan.

Para pemain diberikan weight training. Postur tubuh membesar. Kemampuan juga terus membaik. Pemain timnas diminta kurangi karbohidrat, perbanyak makan sayuran dan protein. Pemain juga dilarang makan gorengan, sebab di situ ada lemak-trans yang tidak baik bagi tubuh. Idealnya, pemain bola hanya memiliki persentase lemak tubuh sebesar 6 – 12%.

Saat Training Center (TC) di Kroasia, fisik pemain mulai membaik. Rata-rata lemaknya sudah di kisaran 6-12%, mirip dengan pemain Korea. Saat itulah, pelatih Shin mulai mengajarkan filosofi bermain bola, juga strategi menang, sesuatu yang hilang di timnas Indonesia selama bertahun-tahun.

Di ajang Piala AFF, timnas ini ikut bertanding. Datang sebagai pasukan muda, tim ini tak punya target. Bahkan mantan pemain senior Malaysia, Safee Sali, sempat memandang remeh tim muda yang minim pengalaman ini. Tim ini diprediksi hanya akan menjadi sasaran tim-tim besar di babak penyisihan.

Siapa sangka, tim ini justru menggila. Kekuatan pemain muda itu malah menggulung permainan Malaysia dan menahan imbang Vietnam yang fisiknya dilatih para juru latih Korea selama bertahun-tahun.

Timnas Indonesia sanggup bermain selama 90 menit, dengan mental yang terus membaik. Dalam pertandingan melawan Singapura, penjaga gawang Nadeo, yang disebut netizen seperti Kepa, malah bisa menggagalkan penalti di menit krusial.

Kini, timnas itu mulai menatap final. Mereka yang tadinya dianggap zero, kini mulai menjadi hero. Berkat para
Ahjusi atau pria paruh baya Korea, yakni jajaran pelatih di bawah Shin Tae Young, mereka siap untuk bermain di final.

Shin Tae Young mulai dicintai banyak orang. Kehadirannya di Indonesia mirip drama Korea. Setelah memegang Timnas Korea, dia bersedia melatih TimNas Indonesia demi membantu ekonomi keluarga. Kini dia mulai dicintai publik Indonesia. Banyak yang menyapa "Jamsahammida" hingga "Saranghaeyo".

We love you Coach!

Apa pun hasil pertandingan di final tak begitu penting lagi. Sebab tim ini telah menunjukkan motivasi, daya tahan, dan rasa lapar akan kemenangan, hal-hal yang selama ini hilang. Mereka siap bertempur habis-habisan.
 
Di satu media, Asnawi Mangkualam, putra pemain legendaris PSM Makassar, Bahar Muharram, mengaku siap tempur. "Walau pun kami kalah, maka kami akan kalah saat berdiri. Kami akan kalah dalam posisi perang," katanya.
(Yusran Darmawan)

0

Komentar belum ada.
Otentifikasi

Silahkan login untuk memberi komentar.

Log in

Berita Terkait
Oleksandr Zinchenko-1645779348
Skuad Persebaya-1642785958