Nusantaratv.com - Ketua Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC), Sapta Nirwandar, menilai pengembangan ekonomi halal di Indonesia masih menghadapi persoalan di dua sisi sekaligus, yakni kebijakan nasional dan pelaksanaan di lapangan.
Hal itu ia sampaikan dalam forum Nusantara Sharia Economic Forum (NUSHAF) 2026 yang digelar di Nusantara Hall, NT Tower, Rabu, 4 Maret 2026, saat menjawab pertanyaan mengenai letak utama tantangan industri halal nasional.
“Dua-duanya. saya lihat ini potensi halal secara global itu memang besar sekali. tidak hanya tadi yang diuraikan dari business impact-nya, tapi juga dari sisi substansinya. Apalagi setelah COVID-19, halal itu dinilai sebagai sesuatu yang healthy, safe dan memberikan manfaat yang luas. Bahkan dari itu. halal itu tidak hanya sekadar agama, tapi menjadi gaya hidup, lifestyle. Makanya saya membuat NGO Indonesia Halal Lifestyle Center,” ujar pria yang pernah menjadi Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif periode 2011-2014 ini.
Menurut Sapta, pascapandemi COVID-19, persepsi terhadap halal mengalami pergeseran. Label halal tidak lagi semata terkait aspek keagamaan, melainkan juga dikaitkan dengan standar kesehatan, keamanan, dan keberlanjutan. Kondisi ini mendorong halal menjadi komoditas internasional dengan nilai ekonomi sangat besar.
“Halal menjadi komoditi internasional yang sangat besar sekali,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar perhatian terhadap ekonomi halal tidak terfokus hanya pada sektor keuangan dan perbankan syariah. Menurutnya, kekuatan utama justru berada pada sektor riil.
“Kita tidak bisa konsentrasi, yang selalu dibicarakan itu keuangan dan perbankan. Ada sektor riilnya. Kalau sektor riilnya jalan, jadi pedagang, jadi hasil duit, bayar zakat, bayar wakaf segala macam bisa,” ucapnya.
Karena itu, ia mengaku aktif melakukan advokasi dan literasi untuk memperkuat ekosistem halal nasional melalui Indonesia Halal Lifestyle Center. Sapta menekankan pentingnya sinkronisasi lintas sektor agar pengembangan industri halal tidak berjalan sendiri-sendiri.
“Makanya saya menggerakkan ini, mengadvokasi, meliterasi. harus ada sinkronisasi, integrasi antara multisektor. Jangan sendiri-sendiri. Harus bersatu. Halal itu hebatnya adalah rahmatan lil alamin,” ujarnya.
Ia bahkan mencontohkan perusahaan besar nasional yang sejak lama konsisten menerapkan standar halal sebagai bagian dari strategi bisnisnya.
“Makanya enggak heran kalau yg paling kaya di Indonesia mohon maaf Indofood. Halalnya sejak kapan? Udah bikin halal dari dulu. Ini adalah industri semua bidang,” kata Sapta.
Menurutnya, dengan pendekatan yang terintegrasi antara kebijakan dan implementasi, industri halal Indonesia berpeluang menjadi kekuatan ekonomi global yang tidak hanya berbasis nilai agama, tetapi juga gaya hidup modern.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh