Ramai Film KKN Desa Penari, Jateng Punya Desa Menari di Lereng Gunung Telomoyo

Nusantaratv.com - 20/05/2022 07:53

Jateng punya Desa Menari di Dusun Tanon, Desa Ngrawan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, di lereng Gunung Telomoyo. (jatengprov.go.id)
Jateng punya Desa Menari di Dusun Tanon, Desa Ngrawan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, di lereng Gunung Telomoyo. (jatengprov.go.id)

Penulis: Tri Budi Purnomo

Nusantaratv.com - Film KKN di Desa Penari sedang viral. Bahkan film ini telah ditonton hingga jutaan orang.

Di balik ramainya film tersebut, ternyata di Jawa Tengah (Jateng) ada wilayah dengan nama mirip, yakni Desa Menari. Lokasinya berada di Dusun Tanon, Desa Ngrawan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, di lereng Gunung Telomoyo. Tempatnya sejuk dan asri. Tak heran, jika pesona keindahannya luar biasa.

Memasuki desa ini, suara gamelan terdengar dari bangunan pendapa Desa Menari. Sejumlah anak memainkan alat gamelan yang tertata rapi, dengan latar belakang dinding bertuliskan 'Desa Menari. Sedangkan tiga orang anak lainnya sibuk menari.

Gerakannya menyesuaikan bunyi gamelan yang dimainkan teman-temannya. Beberapa kali, mereka saling tertawa karena sedikit tidak pas antara irama gamelan dengan gerakan tarian. Anak lainnya memilih menonton latihan seni tersebut.

Tiga orang anak menari diiringi suara gamelan. (Jatengprov.go.id)

Pengelola Desa Menari, Tresno, mengatakan, desanya tidak terkena dampak akibat ramainya film KKN Desa Penari belakangan ini. Berbeda dengan saat viral kisah KKN di Desa Menari di media sosial pada 2019.

"Sampai saat ini belum (belum ada dampak) ya. Tapi waktu dulu awal-awal viral KKN di Desa Penari di media sosial, kita merasakan dampaknya juga. Banyak orang yang searching. Artinya kunjungan kita meningkat," ungkap Kang Tresno, sapaan akrabnya, dilansir dari laman jatengprov.go.id, Jumat (20/5/2022).

Dijelaskan, pada 2019, di Twitter sempat ramai cuitan yang menceritakan KKN di Desa Penari. Kang Treso menuturkan, saat itu kunjungan desanya ramai sebagai dampak viralnya cuitan tersebut.

Kunjungan ketika itu mulai menurun begitu pandemi Covid-19 melanda. Sehingga, aktivitas wisata berhenti selama dua tahun. Di desanya juga tidak ada mitos-mitos tertentu. Hanya sebatas, larangan seperti halnya larangan buang hajat di sendang mengingat airnya juga dikonsumsi. Atau mungkin adanya pantangan yang maksud sebenarnya sebagai bentuk pelestarian alam.

"Kalau ada pantangan tidak boleh A, tidak boleh B, C, D. kalau saya memandangnya itulah konsep pelestarian orang orang zaman dahulu. Pantangan itu sebenarnya untuk pelestarian alam," lanjutnya.

Kang Tresno menjelaskan, kata Desa Menari secara sempit memang diambil dari kata tari. Sebab, kegiatan tari merupakan aktivitas yang telah dilakoni warga desa secara turun-temurun.

"Secara sempit (kata Menari) secara turun temurun di Desa Tanon ini adalah pelestari tari rakyat. Secara lebih luas, kata 'Menari' adalah akronim dari menebar harmoni, merajut inspirasi, menuai memori," jelasnya.

Desa Menari memiliki konsep laboratorium sosial dalam pengembangan wisatanya. Yakni, bergerak di ranah konservasi, yaitu konservasi masyarakat, dolanan tradisional dan kesenian lokal.

Konsep laboratorium sosial itu kemudian dikemas, menjadi aktivitas wisata, dengan beberapa paket wisata. Misalnya, paket outbond desa, paket sinau urip desa, paket wisata jeda hidup, dan lainnya.

Gerbang desa di Dusun Tanon, Desa Ngrawan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. (Jatengprov.go.id) 

Paket wisata itu, beber Kang Tresno, berdasarkan pada aktivitas masyarakat desa. Seperti kegiatan belajar merumput, belajar memberi makan sapi, memeras susu sapi, hingga mengolah susu sapi. 

Ada pula mengolah lahan pertanian sampai panen, dolanan tradisional serta kesenian yang ada. "Kita kemas menjadi paket paduan wisata pembelajaran di Desa Wisata Menari ini," imbuhnya.

Sekilas tentang Desa Menari, Kang Tresno menuturkan, desa wisata itu telah terbentuk pada 2009, dengan nama Desa Wisata Tanon. Kemudian, konsep penamaan berubah menjadi Desa Menari muncul pada 2012.

Dikatakan, desanya tidak menerima tamu setiap hari. Wisatawan harus memesan dulu, kemudian menentukan paket wisata yang diinginkan. Setelah itu, mereka memilih waktu berwisata.

0

Komentar belum ada.
Otentifikasi

Silahkan login untuk memberi komentar.

Log in