Nusantaratv.com - Di tengah transformasi cepat industri kendaraan listrik, beberapa pemain besar mulai mengubah cara mereka berinovasi.
Mercedes-Benz, yang telah menjadi simbol kemewahan selama lebih dari 130 tahun, kini memanfaatkan teknologi dari China untuk merancang generasi mobil listrik berikutnya, menggantikan metode rekayasa tradisional mereka di Jerman.
Hal ini tentu menjadi perubahan besar bagi merek premium yang selama ini menjaga rahasia teknis mereka dengan sangat ketat.
Untuk meluncurkan platform baru bagi kendaraan listrik berukuran kecil, yang dikenal dengan kode "Phoenix", Mercedes-Benz berkolaborasi dengan Geely, raksasa otomotif asal China.
Dalam kemitraan ini, seperti dikutip dari ArenaEV, Sabtu (7/3/2026), Mercedes akan memanfaatkan arsitektur elektronik dan kelistrikan canggih dari Geely, yang dikenal dengan nama GEEA 4.0, sistem yang berfungsi sebagai "otak" mobil, mengendalikan segala sesuatu mulai dari baterai hingga tampilan layar di dasbor.
Lantas, mengapa Mercedes-Benz, merek ikonik Jerman, memilih untuk menggunakan teknologi dari mitra asal China? Jawabannya sangat sederhana, yakni efisiensi biaya.
Mengingat tingginya biaya dalam produksi mobil listrik, Geely berhasil menjaga biaya tetap rendah tanpa mengorbankan kualitas.
Bahkan, eksekutif Mercedes-Benz terbang langsung ke pusat riset Geely di China untuk mempelajari lebih dalam tentang bagaimana perusahaan tersebut dapat memangkas biaya sambil tetap menjaga kualitas tinggi yang menjadi ciri khas Mercedes.
Ini adalah kali pertama dalam sejarah Mercedes-Benz, tim teknik di luar Jerman memimpin proyek global perusahaan.
Pusat Litbang Mercedes-Benz di Beijing kini akan menjadi kantor pusat untuk pengembangan kendaraan kompak masa depan, dengan sekitar 2.000 karyawan yang bertugas mengawasi desain dan pengembangan model-model baru.
Baca Juga: CEO Mercedes-Benz Bocorkan S-Class Terbaru: Lebih Radikal, Mewah, dan Sarat Teknologi Canggih
Langkah ini menunjukkan betapa besar kepercayaan yang diberikan Mercedes-Benz kepada para ahli otomotif di Tiongkok.
Platform baru "Phoenix" ini akan menjadi dasar bagi beberapa model populer, seperti A-Class, B-Class, dan CLA generasi berikutnya, yang dijadwalkan mulai diproduksi pada 2030.
Mercedes-Benz memperkirakan kendaraan-kendaraan ini akan diproduksi secara massal dan dijual secara global, bukan hanya di China.
Namun, bekerja sama dengan Geely bukan hanya soal efisiensi biaya. Mercedes-Benz menghadapi persaingan sengit di pasar mobil China, yang dipenuhi dengan merek lokal seperti Nio dan Aito yang semakin merajai pasar mobil listrik mewah.
Tahun lalu, penjualan Mercedes-Benz di China menurun hingga 19%, dengan total penjualan sekitar 550.000 unit, angka yang hampir sama dengan penjualan sepuluh tahun lalu.
Oleh karena itu, strategi ini bertujuan untuk membantu Mercedes-Benz kembali meraih pelanggan, dengan memanfaatkan teknologi dan rantai pasokan China yang lebih efisien.
Kemitraan ini merupakan bagian dari tren global di industri otomotif, di mana perusahaan-perusahaan besar seperti Volkswagen dan Stellantis juga bekerja sama dengan perusahaan China, seperti XPeng dan Leapmotor.
China telah menjadi pemimpin dalam teknologi dan baterai kendaraan listrik, dan kemitraan lintas negara ini diyakini akan mempercepat pengembangan mobil yang lebih baik dan lebih terjangkau.
Meski fokus utama dari kemitraan ini adalah penghematan biaya dan pemanfaatan teknologi baru, Mercedes-Benz memastikan mobil-mobil yang dihasilkan tetap memiliki ciri khas gaya Jerman yang mewah, dipadukan dengan inovasi Chinayang canggih.
Proyek "Phoenix" akan memulai debutnya pada 2030, dan kita akan melihat apakah strategi ini akan membuahkan hasil.
Yang jelas, masa depan kendaraan listrik akan sangat bergantung pada kolaborasi internasional yang semakin erat.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh