Nusantaratv.com - Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, tidak hanya menyebabkan kerusakan rumah dan lingkungan, tetapi juga meninggalkan trauma mendalam, khususnya bagi perempuan dan anak-anak.
Sebagai bentuk kepedulian, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) turun langsung ke lokasi pengungsian untuk memberikan pendampingan psikososial.
Kunjungan dilakukan di Dusun Pengkolan, Desa Luat Lombang, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, pada Sabtu (4/1/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh Jurnalis Nusantara TV Emir Hamzah dan Indarmawan Hadede yang mendampingi agenda Menteri PPPA Arifah Fauzi di wilayah Langkat dan Tapanuli Selatan.
Bencana alam di Tapanuli Selatan tercatat berdampak pada 13 dari 15 kecamatan, memaksa ribuan warga mengungsi. Di Dusun Pengkolan, Desa Luat Lombang, tercatat sebanyak 115 kepala keluarga atau 369 jiwa masih bertahan di pengungsian.
Dari total pengungsi tersebut, terdapat 119 anak, terdiri atas 33 balita, 48 siswa sekolah dasar (SD), 22 siswa sekolah menengah pertama (SMP), 16 siswa sekolah menengah atas (SMA), serta enam mahasiswa. Selain itu, terdapat enam ibu hamil dan sejumlah lansia yang memerlukan perhatian khusus.
Kunjungan Menteri PPPA turut dihadiri Bupati Tapanuli Selatan Gus Irawan Pasaribu, Wakil Bupati Jafar Syahbuddin Ritonga, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana Provinsi Sumatra Utara Dwi Endah Purwanti, Direktur Fasilitasi Penanganan Korban dan Pengungsi BNPB Nelwan Harahap, perwakilan Muslimat NU, serta unsur Forkopimda setempat.
Menteri PPPA Arifah Fauzi menegaskan kehadiran pihaknya bertujuan untuk memberikan semangat dan dukungan kepada anak-anak pengungsi.

Menteri PPPA Arifah Fauzi meninjau langsung posko pengungsian dan berinteraksi dengan anak-anak di Dusun Pengkolan, Desa Luat Lombang, Kecamatan Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara. (Foto: Istimewa)
"Niat kami hadir di Tapanuli Selatan adalah untuk membersamai anak-anak. Kita menghibur bersama, dan luar biasa semangat mereka. Ada yang bercita-cita jadi tentara, dokter, polisi, bahkan bupati," ujar Menteri Arifah.
Dia juga mengapresiasi semangat para ibu yang tetap mengutamakan anak-anak di tengah kondisi sulit.
"Maknanya sangat dalam, bahwa dalam situasi apa pun, ibu akan selalu memprioritaskan anak dan keluarganya," lanjutnya.
Menteri Arifah menegaskan, pemerintah pusat terus mempercepat penanganan pascabencana melalui kolaborasi lintas kementerian dan pemerintah daerah.
"Ini adalah bentuk gotong royong, sinergi, dan kolaborasi. Pemerintah hadir di berbagai daerah terdampak untuk memberikan layanan terbaik bagi masyarakat," jelasnya.
Dia juga mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan yang telah menyiapkan perlengkapan sekolah bagi anak-anak pengungsi, mulai dari seragam, sepatu, tas, hingga alat tulis.
"Kebutuhan anak-anak untuk kembali bersekolah sudah tercukupi. Dari Kemen PPPA, kami juga akan melakukan tindak lanjut berupa pendampingan dan dukungan psikososial secara berkelanjutan," tegasnya.
Menjawab pertanyaan terkait pesan Presiden Prabowo Subianto bagi para pengungsi di Sipirok, Menteri Arifah menyampaikan, pemerintah memastikan hak pendidikan anak-anak tetap terpenuhi.
"Pastinya pemerintah sudah mengupayakan semaksimal mungkin agar waktunya sekolah anak-anak bisa bersekolah. Kalaupun sekolahnya masih terkendala pasti ada sarana yang disiapkan sementara untuk tempat anak-anak bisa bersekolah. Bapak Presiden ingin anak-anak tetap semangat, karena anak-anak adalah generasi masa depan, dan calon pemimpin Indonesia masa depan," tukas Menteri Arifah.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh