Nusantaratv.com - Industri otomotif Indonesia tengah memasuki fase krusial di awal 2026.
Perlambatan permintaan pasar, ketidakpastian kebijakan fiskal dan insentif, serta percepatan transisi menuju kendaraan listrik (electric vehicle/EV) menjadi kombinasi tantangan yang menekan pertumbuhan industri.
Evaluasi insentif pemerintah di tengah pengetatan anggaran bahkan memunculkan kekhawatiran akan potensi "fiscal cliff" pada periode 2025-2026, yang dinilai dapat memengaruhi keberlanjutan sektor otomotif nasional.
Menjawab dinamika tersebut, VinFast Indonesia menggelar forum diskusi VIN TALKS bertajuk "Navigating Uncertainty: The Future of Indonesia's Automotive Industry Amid Policy Shifts and Electrification" dalam rangkaian Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026.
Diskusi ini menghadirkan ekonom nasional Josua Pardede serta CEO VinFast Indonesia, Kariyanto Hardjosoemarto, untuk mengulas tantangan penjualan, arah kebijakan fiskal, hingga kesiapan industri menghadapi transisi elektrifikasi.
Memasuki awal 2026, ketidakjelasan kelanjutan insentif kendaraan listrik mendorong sikap wait and see di kalangan pelaku industri, khususnya produsen EV, dalam memperluas portofolio produk di Indonesia.
Kondisi ini tak hanya memengaruhi kepercayaan pelaku industri terhadap prospek pasar, tetapi juga berpotensi menghambat optimisme pencapaian target pemerintah menuju emisi nol bersih melalui percepatan adopsi kendaraan listrik.
Josua Pardede menilai industri otomotif Indonesia saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Pergeseran struktural dari kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) ke kendaraan listrik menuntut investasi modal besar, penyesuaian rantai pasok, serta pemerataan infrastruktur pendukung.

VinFast mengawali 2026 dengan meluncurkan Limo Green. (Foto: Dok/Istimewa)
Oleh karena itu, kepastian regulasi dan kesinambungan kebijakan menjadi faktor krusial untuk menjaga kepercayaan investor sekaligus menopang daya beli konsumen.
"Tahun ini akan menjadi fase yang menantang bagi industri otomotif, terutama jika kepastian insentif dan kebijakan fiskal belum sepenuhnya jelas. Namun secara struktural, Indonesia tetap memiliki fondasi yang kuat, ditopang oleh pasar domestik yang besar, bonus demografi, serta roadmap elektrifikasi nasional," ujar Josua Pardede.
Dia menambahkan, kesinambungan kebijakan dan dukungan pemerintah, khususnya terkait insentif, akan menjadi kunci agar pelaku industri dan konsumen tetap percaya diri berinvestasi dan bertransisi ke kendaraan listrik.
Di tengah dinamika fiskal dan regulasi tersebut, VinFast menegaskan komitmen jangka panjangnya di Indonesia melalui pendekatan berbasis ekosistem.
Strategi ini mencakup pembangunan infrastruktur pengisian daya, penguatan jaringan ritel, serta layanan purna jual guna meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap kendaraan listrik.
"Visi kami adalah menjadikan Indonesia sebagai hub EV regional sekaligus memastikan konsumen memiliki akses dan kepercayaan penuh terhadap kendaraan listrik. Ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang kami di tengah transisi industri otomotif," kata Kariyanto Hardjosoemarto.
Sebagai wujud nyata komitmen tersebut, VinFast mengawali 2026 dengan meluncurkan Limo Green, MPV listrik tujuh penumpang yang dirancang untuk kebutuhan keluarga maupun aplikasi komersial seperti armada taksi dan layanan ride-hailing.
"Langkah ini menunjukkan komitmen kami untuk terus berinvestasi dan bertumbuh secara berkelanjutan, sejalan dengan agenda industrialisasi dan transisi energi nasional," tukas Kariyanto.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh