Nusantaratv.com - Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah Kementerian Haji dan Umrah, Prof. Dr. Jaenal Effendi, menegaskan langkah pemerintah mendorong komoditas dalam negeri masuk ke rantai pasok layanan haji Indonesia di Arab Saudi. Tahun ini, Indonesia mulai mengekspor 2.280 ton beras untuk kebutuhan jemaah haji.
Pernyataan itu disampaikan Jaenal dalam forum Nusantara Sharia Economic Forum
(NUSHAF) 2026 yang digelar di Nusantara Hall, NT Tower, Rabu, 4 Maret 2026. Menurut Jaenal, pemerintah telah menyelesaikan kontrak dengan penyedia layanan di Arab Saudi untuk musim haji mendatang. Kontrak tersebut mencakup puluhan dapur dan ratusan hotel yang akan melayani 221 ribu jemaah haji asal Indonesia.
“Ketika ini kami barusan menyelesaikan kontrak dengan seluruh dapur di Arab Saudi Ini untuk layanan Haji. 52 di Makkah, 23 di Madinah. Hotel 178 hotel Dd Makkah dan di Madinah. Bus Ini juga banyak sekali yang kita sewa. Ini kebutuhan di Saudi untuk jamaah kita yang jumlahnya 221.000,” kata dia.
Ia menegaskan, dalam nota kesepahaman antara Kementerian Agama dan penyedia layanan di Saudi, terdapat klausul yang mewajibkan komoditas bahan makanan untuk jemaah Indonesia berasal dari Tanah Air.
“Kebutuhan di Saudi untuk kebutuhan jamaah haji kita ini bahan-bahannya komoditasnya ini harus dari Indonesia. Ini bunyi Klausul MoU antara Kemenhaj dengan penyedia dapur, penyedia hotel. ini item-item-nya harus datang dari indonesia. Makanannya harus ready to eat,” ujarnya.
Ekspor beras 2.280 ton tersebut dilepas bersama Menteri Pertanian, Direktur Utama Bulog, Wakil Menteri Perdagangan, dan sejumlah kementerian serta lembaga terkait.
“Dan siang tadi kami bersama Menteri Pertanian, Dirut Bulog, Wamen Perdagangan dan K/L lainnya ini membersamai untuk ekspor berjalan. Jadi kita akan ekspor tahun ini 2.280 ton dan tadi kami mengirim bersama-sama untuk dikirim ke pelabuhan dan memulai menuju ke Saudi Arabia. Dan alhamdulillah ini kita pecah telor. Beberapa tahun sebelum-sebelumnya kita hanya bisa kirim buku,” ucapnya.
Jaenal mengungkapkan, selama ini sebagian kebutuhan pangan jemaah haji Indonesia justru dipasok dari negara lain, termasuk Thailand.
“Sangat mengkhawatirkan. Jadi bagian dari analisa kami, Kementerian haji itu ada dua. Satu Kementerian Haji Arab Saudi, yang kedua adalah Kementerian Haji Republik Indonesia. Jadi di dunia ini hanya ada dua Kementerian Haji dan jumlah jemaah haji paling banyak adalah dari Indonesia, 221 ribu. Paling banyak. Tapi dari sisi bergaining position terkait dengan komoditas yang mestinya datang dari Indonesia selama ini tidak dinikmati,” katanya.
Ia juga menyinggung arahan Presiden Prabowo Subianto agar belanja operasional haji yang nilainya mencapai sekitar Rp18 triliun dapat memberikan efek balik ke perekonomian nasional.
“Pesan pak presiden harapannya Rp18 triliun sekian untuk operasional haji ini ada yang bisa balik lagi ke Tanah Air. Tidak kemudian baliknya, tahun-tahun sebelumnya itu adalah sebagian dari keuntungan yang ada itu masuk ke Vietnam, Filipina, Thailand, Australia, Brasil dan yang lain,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengiriman beras tahun ini menjadi langkah awal memperkuat posisi tawar Indonesia sebagai negara dengan jumlah jemaah haji terbesar di dunia.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh