Edukasi UMKM, BPOM Terbitkan Buku Saku Pengujian Produk

Edukasi UMKM, BPOM Terbitkan Buku Saku Pengujian Produk

Nusantaratv.com - 10 Maret 2026

Tangkapan Layar - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar (kiri) meluncurkan buku saku tentang uji produk untuk mengedukasi Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) sebagai upaya memajukan kualitas produk UMKM guna mengejar target peningkatan ekonomi 8 persen per tahun, di Jakarta, Selasa (10/3/2026). ANTARA/HO - YouTube BPOM (BPOM) (Antara)
Tangkapan Layar - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar (kiri) meluncurkan buku saku tentang uji produk untuk mengedukasi Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) sebagai upaya memajukan kualitas produk UMKM guna mengejar target peningkatan ekonomi 8 persen per tahun, di Jakarta, Selasa (10/3/2026). ANTARA/HO - YouTube BPOM (BPOM) (Antara)

Penulis: Ramses Manurung

Nusantaratv.com-Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) meluncurkan buku saku tentang uji produk sebagai upaya memberikan edukasi kepada pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) agar dapat meningkatkan kualitas serta keamanan produk yang dihasilkan.

Kepala BPOM, Taruna Ikrar, mengatakan di Jakarta pada Senin, 9 Maret 2026, bahwa Indonesia memiliki sekitar 65,5 juta UMKM yang berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Sektor tersebut menyumbang sekitar 61,9 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dan menyerap sekitar 119 juta tenaga kerja.

Ia menjelaskan, dari total 65,5 juta UMKM tersebut, sekitar 4,2 juta bergerak di bidang pangan, obat-obatan, dan kosmetik yang menjadi fokus pengawasan BPOM.

"Dari 4,2 juta itu yang Badan POM baru sempat layani baru sekitar 1,7 juta. Berarti masih ada 3 juta lebih yang belum kita sentuh Itu tanggung jawab besar bagi kami," kata Taruna.

Menurutnya, penerbitan buku saku tersebut merupakan bagian dari langkah BPOM untuk mendorong kemajuan UMKM sekaligus mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional yang diharapkan mencapai 8 persen per tahun.

Taruna menilai UMKM memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan kesehatan sekaligus memperkuat ekonomi nasional. Oleh karena itu, peningkatan kualitas produk UMKM menjadi hal yang sangat penting.

Ia juga menyebutkan bahwa untuk mencapai status negara berpenghasilan tinggi, produk domestik bruto Indonesia setidaknya harus mencapai 12.500 dolar Amerika Serikat.

Sebagai lembaga yang bertugas menjamin keamanan produk pangan, obat-obatan, dan kosmetik, BPOM terus melakukan berbagai upaya nyata melalui asistensi, edukasi, serta pendampingan bagi para pelaku UMKM agar produk mereka semakin aman dan berkualitas.

"Misalnya dari pangan siap saji menjadi pangan steril komersial, itu contohnya kalau dulu produknya cuma bisa dipakai 1-2 hari basi, maka kita bantu lewat asistensi, pembimbingan maka nanti dia produknya bisa bertahan 6 bulan sampai 1,5 tahun," dia menyebutkan, dikutip dari Antara.

Dengan peningkatan kualitas tersebut, produk UMKM diharapkan mampu menembus pasar global sehingga dapat meningkatkan pendapatan pelaku usaha dan kesejahteraan mereka.

Selain itu, program edukasi tersebut juga menjadi bagian dari kontribusi BPOM dalam memperkuat hilirisasi produk di Indonesia. BPOM sendiri memiliki sejumlah program pendukung bagi UMKM, seperti Pangan Desa Aman dan Sapa Pasar.

Dalam kesempatan yang sama, BPOM juga menerima penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) atas rekor edukasi peningkatan pemahaman dan kesadaran terhadap pengujian keamanan serta mutu produk kepada UMKM terbanyak.

Taruna menilai penghargaan tersebut menjadi bukti keseriusan BPOM dalam mengedukasi pelaku UMKM sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Ketua Umum Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi), Sancoyo Antarikso, mengapresiasi inisiatif BPOM tersebut. Menurutnya, industri kosmetika merupakan salah satu sektor yang terus berkembang dan memberikan kontribusi signifikan terhadap ekonomi nasional.

"Diperkirakan tahun ini nilai pasarnya lebih dari 10 miliar dolar AS dan sebagian besar dari pelakunya adalah UMKM. Oleh karena itu kami menyambut baik diluncurkannya buku saku tentang uji terutama untuk UMKM," katanya.

Sementara itu, Wakil Bidang Pemberdayaan dan Pengembangan IKM Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI), Betsy Monoarfa, menilai edukasi tersebut dapat menjadi panduan bagi UMKM untuk meningkatkan kualitas usaha mereka.

"Dan yang pasti adalah mereka sadar bahwa keamanan pangan itu adalah harga mati. Jadi tidak boleh ditawar, sekalipun itu berasal dari produk-produk UMKM," katanya.

 

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close