Nusantaratv.com - Pengurus Besar Persatuan Catur Seluruh Indonesia (PB Percasi) menggelar seminar membahas digitalisasi di catur bertajuk "Chess In The Digital Era A Seminar on Management for Administrators" di Artotel Hotel Senayan Jakarta, Sabtu (4/4/2026).
Seminar yang diikuti 52 peserta termasuk Women Grand Master (WGM) WGM Enkhtuul Borjigon Altan-Uzli dari Mongolia menghadirkan dua pembicara dari Singapura yakni FST Ignatius Leong dan IA Khor Eng-Yeow.
Dalam seminar yang berlangsung satu hari ini, FST Ignatius Leong dan IA Khor Eng-Yeow memaparkan pentingnya digitalisasi dalam pengembangan catur. Baik untuk peningkatan pengembangan catur di sektor pendidikan, pengembangan kemampuan bermain atlet junior, peningkatan metode pelatihan hingga mencakup sektor bisnis dalam perhelatan catur hingga media.
Turut hadir Ketua Umum PB Percasi Grand Master Urut Adianto, Sekjen Henri Hendratno, Humas Ury Kertopati dan jajaran pengurus lainnya.
Ditemui di sela-sela kegiatan seminar, Ketua Umum PB Percasi GM Utut Adianto mengatakan seminar tentang digitalisasi di catur ini sangatlah penting. Karena seiring kemajuan perangkat teknologi digitalisasi adalah keniscayaan yang tak terhindarkan. Melalui seminar ini, kata Utut, PB Percasi ingin mendorong percepatan digitalisasi di catur sekaligus menginspirasi para pengurus, atlet hingga praktis catur khususnya yang berusia muda untuk memahami pentingnya pemanfaatan digital di catur.

Ignatius Leong.
"Titik beratnya ke ilmunya, kompetensinya. Ngajarin teknik-teknik, ngajarin ilmunya. Karena kita memahami bahwa ke depan digital itu sudah tidak bisa dihindari. Untuk itu kita harus menguasai ilmunya dan memanfaatkannya untuk meningkatkan pembinaan atlet dan aspek lainnya. Digital ini kan bisa mencakupnya lebih cepat. Semua orang juga bisa dapat," kata Utut Adianto.
Apalagi, sambung Utut, menurut informasi yang diperoleh Ignatius Leong ada 6,5 juta orang Indonesia yang bermain catur secara online.
"Nah ini kan yang sebenernya modal kita. Itu sebabnya bagaimana kita juga karena kita harus adaptif dengan kemajuan jaman," tandasnya.
Kendati catur online atau digital mengalami perkembangan yang sangat pesat, sambung Utut, PB Percasi tetap menaruh perhatian besar terhadap pelaksanaan turnamen catur offline khususnya untuk catur standar atau klasik yang menjadi fundamental ilmu catur.
Sejalan dengan tuntutan untuk melakukan digitalisasi di catur, Utut ingin ada bidang khusus digital dalam kepengurusan PB Percasi yang mendatang.
Lebih lanjut Utut mengatakan tujuan lain dari seminar ini adalah menginspirasi insan catur di Indonesia untuk melek digital. Jangan sampai digitalisasi yang seharusnya membantu peningkatan perkembangan catur di Tanah Air justru menyebabkan terjadinya misleading lantaran minimnya literasi masyarakat.
"Karena masih banyak masyarakat kita yang belum tersentuh sama sekali. Nah ini langkah awal, tentu gak bisa langsung jadi," ucapnya.
Dengan mayoritas penduduk Indonesia kini memiliki smartphone Utut optimis proses digitalisasi di catur akan berjalan lancar dan optimal.
"Kita akan terus mendorong dan lakukan supervisi. Bahwa ini adalah keniscayaan," tandasnya.
Hal senada disampaikan Ignatius Leong sebagai salah satu pembicara dalam seminar. Leong menyatakan manfaat digital sangatlah besar. Untuk organisasi, media, komunikasi, pelatih wasit.
"Untuk menghadapi perubahan baru dan mengeksplorasi. Bagaimana kita bisa mencari orang-orang yang lebih muda untuk masuk ke komunitas-komunitas catur," ujar Leong.
Leong meyakini dengan melakukan digitalisasi banyak urusan di catur yang sangat terbantu. Mulai dari urusan registrasi turnamen, pengembangan metode latihan hingga urusan sponsor dan pemasaran.
Berbicara soal progres digitalisasi di catur di Indonesia, Leong optimis dengan semakin meningkatnya perekonomian Indonesia digitalisasi dapat berlangsung lebih cepat.
"Menurut saya, pada dasarnya ini bergantung pada bagaimana, apakah banyak orang mampu membeli mobile phone. Dengan mobile phone tersebut mereka bisa mengakses seluruh aplikasi catur digital. Mereka bisa mengikuti kompetisi online, bahkan bisa mendapatkan latihan gratis dari Grand Master atau pelatih," tutur Leong.
Pada kesempatan yang sama, WGM Enkhtuul Borjigon Altan-Uzli dari Mongolia yang menjadi peserta seminar mengatakan digitalisasi di catur yang dilakukan federasi catur Mongolia berkembang pesat seiring dengan booming e-sport.
"Para pecatur di Mongolia sangat aktif mengikuti turnamen catur online baik di dalam maupun luar negeri. Kami juga sering bekerja sama dengan platform Chess.com menyelenggarakan turnamen online," ujar Enkzhuul.
Sebagai orang yang tergolong generasi lama, Enkzhuul mengakui ada tantangan tersendiri untuk beradaptasi dengan digitalisasi di catur. Karena itu untuk lebih cepat beradaptasi, ia rajin mengikuti seminar tentang digitalisasi di catur seperti yang digelar PB Percasi hari ini.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh