Nusantaratv.com-Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia Dino Patti Djalal menyarankan Presiden Prabowo Subianto untuk lebih memprioritaskan penguatan hubungan dengan negara-negara Asia Tenggara di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Pernyataan tersebut disampaikan Dino saat ditemui di sela acara Middle Power Conference di Jakarta, Selasa (14 April 2026).
Ia menanggapi kunjungan luar negeri Prabowo ke Rusia dan Prancis yang berlangsung di tengah eskalasi konflik di berbagai kawasan, termasuk Timur Tengah.
"Sebagai middle power, apalagi sebagai region power, kekuatan di Asia Tenggara, kita harus utamakan suatu kondisi di mana kalau pun (terjadi) perang di Eropa, kalau pun ada perang di Timur Tengah, perang di Afrika, bahkan di Asia Selatan. India-Pakistan kan masih hangat, paling tidak di Asia Tenggara kita aman," katanya.
Dino juga menyinggung adanya persepsi publik yang menilai Presiden Prabowo lebih banyak memberi perhatian pada kekuatan global dibanding kawasan Asia Tenggara.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa langkah kunjungan luar negeri tersebut bukanlah sesuatu yang keliru.
Namun demikian, Dino menekankan pentingnya peningkatan fokus terhadap kerja sama regional, khususnya di lingkungan Association of Southeast Asian Nations.
Menurutnya, Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk memainkan peran kepemimpinan di kawasan dibandingkan di forum global seperti BRICS maupun G20.
"Forum di mana kita bisa mengendalikan kawasan, mengendalikan situasi itu adalah Asia Tenggara. Dan inilah sebabnya Presiden Prabowo, menurut saya, tahun ini harus lebih banyak ngurus ‘kandang’ kita di Asia Tenggara," ujar Dino.
Ia juga menilai Indonesia tidak perlu mengejar citra sebagai “macan Asia”, melainkan lebih realistis menjadi penggerak utama di kawasan ASEAN.
"Kita tidak perlu jadi macan Asia, kita perlu jadi mesin ASEAN. Macan Asia itu dari segi retorika agak jauh menurut saya. Tapi mesin ASEAN itu sangat realistis," katanya, dikutip dari Antara.
Selain itu, Dino mengimbau pemerintah untuk lebih transparan dalam menyampaikan agenda perjalanan luar negeri presiden guna menghindari spekulasi publik.
"Kita harus tahu ini presiden mau kemana, sehingga tidak menimbulkan spekulasi. Jadi, imbauan saya kepada pemerintah, setiap kali ada perjalanan ke luar negeri, beri penjelasan secara profesional, secara protokoler saja. Jadwalnya ke mana, dan kalau bisa ketemu siapa, dan agendanya apa," kata dia.
Dalam kunjungan tersebut, Presiden Prabowo diketahui lebih dulu bertolak ke Moskow, Rusia, untuk bertemu Presiden Vladimir Putin. Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan peningkatan kerja sama di berbagai sektor, termasuk ekonomi, energi, antariksa, pertanian, industri, dan farmasi.
Selanjutnya, Prabowo melanjutkan perjalanan ke Paris, Prancis, untuk bertemu Presiden Emmanuel Macron.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh