BKKBN: SDM Tanpa Stunting Jadi Kunci Indonesia Maju 2045

BKKBN: SDM Tanpa Stunting Jadi Kunci Indonesia Maju 2045

Nusantaratv.com - 21 Mei 2026

Sekretaris Kemendukbangga/BKKBN Budi Setiyono dalam diskusi bersama media terkait penurunan stunting untuk mencetak generasi unggul di Jakarta pada Rabu 20 Mei 2026. ANTARA/HO-Kemendukbangga/BKKBN (Antara)
Sekretaris Kemendukbangga/BKKBN Budi Setiyono dalam diskusi bersama media terkait penurunan stunting untuk mencetak generasi unggul di Jakarta pada Rabu 20 Mei 2026. ANTARA/HO-Kemendukbangga/BKKBN (Antara)

Penulis: Ramses Manurung

Nusantaratv.com-Sekretaris Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Sesmendukbangga)/Sekretaris Utama BKKBN Budi Setiyono menegaskan kualitas sumber daya manusia (SDM) tanpa stunting harus menjadi agenda utama nasional guna mendukung terwujudnya visi Indonesia Maju 2045.

Pernyataan tersebut disampaikan Budi untuk menanggapi pidato Presiden Prabowo Subianto dalam rapat di DPR terkait Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027 pada Rabu, 20 Mei 2026.

“Agar visi Indonesia Maju 2045 dapat tercapai, kita perlu mendukung Presiden untuk bergerak jauh melampaui pidato dan target angka pertumbuhan. Pertama, kualitas SDM harus dijaga tanpa stunting, reformasi pendidikan dan keterampilan harus menjadi agenda utama nasional,” kata Budi saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis, 21 Mei 2026.

Budi menilai distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG) perlu dipertajam agar benar-benar menyasar kelompok rentan, terutama ibu hamil dan ibu menyusui yang berisiko melahirkan anak stunting.

Selain itu, Indonesia juga dinilai perlu mengubah fokus pendidikan dari sekadar meningkatkan angka partisipasi sekolah menjadi peningkatan kualitas SDM.

“Pendidikan matematika, sains, engineering (rekayasa), akal imitasi (AI), dan vokasi industri harus menjadi prioritas,” ujar dia.

Selain sektor pendidikan, Budi juga menekankan pentingnya reformasi birokrasi berbasis meritokrasi.

Menurutnya, digitalisasi pengadaan pemerintah, integrasi data fiskal nasional, evaluasi ASN berbasis kinerja, hingga deregulasi perizinan harus dilakukan secara agresif.

“Ketiga, hilirisasi harus naik kelas. Indonesia tidak cukup hanya membangun smelter (pabrik pengolahan tambang). Indonesia harus masuk ke rantai nilai yang lebih tinggi seperti industri baterai, kendaraan listrik, petrokimia, material maju, hingga industri komponen teknologi,” paparnya, dikutip dari Antara.

Ia juga menyoroti pentingnya peningkatan investasi riset dan pengembangan agar Indonesia tidak terus bergantung pada teknologi asing.

Budi menyebut negara-negara maju rata-rata mengalokasikan lebih dari dua persen produk domestik bruto (PDB) untuk riset.

“Indonesia masih harus kejar agar menyamai angka tersebut. Tanpa inovasi dan teknologi domestik, Indonesia akan terus bergantung pada teknologi asing,” ucap Budi.

Selain itu, pembangunan infrastruktur juga dinilai harus diarahkan untuk menekan biaya logistik nasional, mengingat Indonesia sebagai negara kepulauan membutuhkan konektivitas yang efisien agar produktivitas ekonomi dapat tumbuh merata di seluruh wilayah.

 

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close