Berbicara di NEO 2026: Menko AHY: Dunia Sedang Bergerak Menuju Fase Ketidakpastian Baru

Berbicara di NEO 2026: Menko AHY: Dunia Sedang Bergerak Menuju Fase Ketidakpastian Baru

Nusantaratv.com - 04 Februari 2026

Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono
Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono

Penulis: Ramses Manurung

Nusantaratv.com-Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan bahwa dinamika geopolitik global saat ini semakin kompleks dan berpotensi berdampak langsung terhadap stabilitas nasional Indonesia. Hal tersebut ia sampaikan dalam keynote speech pada acara Nusantara Economic Outlook (NEO) 2026 yang digelar di Nusantara Ballroom, Rabu (4/2/2026).

AHY menggambarkan dunia tengah bergerak menuju fase ketidakpastian baru, ditandai meningkatnya rivalitas antarnegara, konflik terbuka di berbagai kawasan, serta perebutan sumber daya strategis. Menurutnya, ekonomi dan geopolitik kini tidak lagi bisa dipisahkan karena keduanya saling memengaruhi dan berkaitan langsung dengan kedaulatan sebuah negara.

“Ketahanan sebuah bangsa hari ini tidak hanya diukur dari kemampuannya menghadapi guncangan, tetapi juga seberapa cepat ia bangkit dari krisis dan beradaptasi terhadap perubahan,” ujar AHY.

Ia menyoroti fenomena meningkatnya ketegangan geopolitik di sejumlah wilayah dunia, mulai dari Amerika Latin, Timur Tengah, hingga kawasan Arktik. AHY mencontohkan bagaimana kepentingan terhadap sumber daya alam strategis seperti minyak, gas, dan mineral kritis kerap menjadi pemicu konflik dan pergeseran tatanan global.

“Jangan pernah berpikir bahwa perang besar tidak mungkin terjadi lagi. Banyak negara hari ini memiliki kekuatan nuklir, dan ketegangan yang ada tidak mudah untuk diredam,” tegasnya.

Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (NTVNews)

AHY juga menyinggung potensi perubahan world order akibat melemahnya norma dan aturan internasional yang selama ini dijunjung bersama. Ia menilai, perebutan pengaruh global kini tidak lagi sebatas kekuatan militer, tetapi meluas ke kontrol rantai pasok, standar teknologi, data, hingga investasi strategis.

Dalam konteks tersebut, Indonesia dinilai tidak bisa bersikap pasif meski secara geografis jauh dari pusat konflik. Menurut AHY, setiap gejolak geopolitik global akan berdampak langsung terhadap ekonomi nasional, mulai dari gangguan rantai pasok, kenaikan biaya logistik, hingga tekanan inflasi.

“Indonesia memang tidak dekat dengan Venezuela, Iran, atau Greenland. Tetapi apa pun yang terjadi di sana, dampaknya akan sampai ke kita,” katanya.

Menghadapi situasi global tersebut, AHY menekankan pentingnya memperkuat ketahanan nasional dan otonomi strategis. Ia menegaskan bahwa Indonesia harus memastikan kedaulatan di sektor-sektor fundamental seperti pangan, energi, dan air, agar tidak mudah terombang-ambing oleh tekanan global.

Di tengah rivalitas kekuatan besar dunia, AHY kembali menegaskan komitmen Indonesia pada politik luar negeri bebas dan aktif. Menurutnya, Indonesia tidak perlu terjebak dalam dikotomi memilih satu kekuatan besar, melainkan membangun posisi strategis yang mandiri dan dihormati.

“Kita tidak harus memilih A atau B. Bebas aktif itu juga sebuah pilihan strategis,” ujarnya.

AHY menutup pandangannya dengan menegaskan bahwa di era kompetisi global yang semakin keras, hanya negara yang kuat dan siap yang mampu menjaga kepentingannya sendiri. Karena itu, penguatan ketahanan dalam negeri menjadi prasyarat utama agar Indonesia tidak menjadi korban dalam percaturan geopolitik dunia.

 

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close